Nasyid; Sebuah Kontemplasi

Posted: April 15, 2008 in Opini
Tags:

Nasyid
Sebuah Kontemplasi
Oleh : Ridhwan Ibnu Asikin*

Berbicara tentang nasyid, tentunya akan ada kolerasi dengan yang namanya nada. Begitu juga sebagai sebuah aliran musik yang tertentu di pelbagai musikalitas musik yang ada di dunia. Sebenarnya jika kita amati, nasyid adalah sebuah upaya solusi hiburan yang berdedikasi atas nama islam. Karena lahirnya nasyid sendiri di picu atas maraknya hiburan hiburan yang memang jauh dari nilai nilai islam, sehingga para munsyid tergerak untuk membangun sebuah pencerahan sebagai satu upaya kontemplasi akan realita yang ada saat itu.

Komunitas nasyid sendiri, dari tahun ke tahun sangatlah minim atau bahkan bisa di bilang marak akan tetapi “ pasar ” tidak bisa mencernanya jika di lihat dari dinamika kehidupan musik Indonesia. Sebab nasyid yang tergambar oleh kita adalah tidak jauh dari rebana, gendang, acapella serta lain sebagainya. Dan ketika kita di berikan hal yang baru dari selain itu, dengan berniat pelakunya untuk melakukan sebuah upaya mengembangkan bakat dan menghapus paradigma yang ada serta memberikan warna baru di nasyid. Dengan segera sebagian dari kita mengecap dan memvonis bahwa itu adalah hal yang tabu di dunia nasyid. Dan dengan diam diam kita mengenyampingkan hal tersebut. Padahal, jika kita amati sebenarnya yang di sebut nasyid itu seperti apa ?? dan jenis musik nasyid itu seperti apa ? batasannya sampai dimana ? dan apa makna nasyid itu sendiri ? sebab yang penulis ketahui musik itu adalah universal.

Baik, di sini penulis akan mencoba menafsirkan hal tersebut dengan berkaca dari waktu ke waktu. Meskipun penulis sadari bahwa penulis bukanlah orang yang “ Lama “ di dunia nasyid. Akan tetapi. Sedikitnya penulis selalu mengamati perkembangan nasyid dari dulu hingga kini.

Kalau kita mau jujur, bicara tentang nasyid di Indonesia yang tergambar di benak kita adalah pertama orang orangnya alim dan mengetahui tentang agama, kedua liriknya sarat dengan nasihat nasihat, ketiga alat serta aransement musik nasyid itu tertentu atau ada yang membatasi. Baik dua point pertama kita tinggalkan karena hal itu sudah jelas dan tidak perlu di bahas lagi. Yang paling penting di sini adalah batasan musiknya atau bisa di sebut lebih gaulnya “ genre ”. sebab yang ada di pikiran kita bahwa jenis musik musik yang berkembang di Indonesia adalah hal yang salah dan yang paling benar adalah nasyid.

Sejatinya, kita sebagai muslim harus bisa objektif dalam menilai seseorang. Pertama mungkin karena orang yang melakukan hal tersebut tidak memahami jalan hidupnya dan tentunya kita harus mendo’akannya. Kedua ada kemungkinan pengaruh lingkungan yang membawanya sehingga mereka memilih jalan itu, maka tugas kita adalah memberikan petunjuk kepadanya. Bukan dengan memvonis bahwa kita adalah yang paling benar.

Kembali lagi ke permasalahan genre. Sebenarnya dalam dunia musik tidak mengenal suatu kaum, baik itu orang hitam, orang kulit putih, orang pintar, orang bodoh, orang alim dsb. Sebab musik itu adalah universal bukan milik suatu kalangan. Maka dari sini, kita harus bisa membaca keadaan yang memang semenjak awal nasyid itu di rasakan oleh masyarakat adalah milik suatu golongan. Dan kadang, solusi dari sebagian munsyid sendiri itu mereka menjadi beralih dan enggan menyebut groupnya sebagai nasyid akan tetapi mereka lebih senang di sebut pop reliji. Mungkin karena realita menggambarkan hal itu dan memang “ pasar ” lebih banyak jadinya mereka ikut ikutan.

Nah, dari sinilah permasalahan lain muncul, yang dari semenjak awal nasyid itu adalah hal yang tabu akan musik musik tersebut. Kini dengan perkembangan zaman yang menyeret kepada areal globalisasi telah mengkontaminasi dunia nasyid. Sehingga konsekuensi logisnya jatuh kepada para munsyid itu sendiri. Dengan harapan yang sangat agung meskipun pada prakteknya mereka mengharapkan “ pasar ” bisa menikmatinya.

Ok, memang kita tidak munafik bahwa kita sangat menginginkan “ pasar ” bisa menikmati sajian sajian islami kita. Tapi sebenarnya jalannya bukan dengan mengganti nama aliran atau sebuah upaya pencerahan. Akan tetapi sejatinya, kita harus tetap istiqamah sebab orang lain bisa menilai mana yang memang nasyid dan mana yang memang pop reliji. Contohnya antara Ungu dan Snada. Memang kedua group ini pernah melantunkan syair syair yang sarat penuh nasihat, tetapi bedanya yang pertama adalah berasal dari group band dan yang kedua adalah berasal dari acapella. Kemudian timbul pertanyaan mengapa Ungu yang naik daun padahalkan snada lebih langka dengan acapella nya ketimbang Ungu ??

Ini semua di kembalikan kepada masyarakat kita, yang selalu menafsirkan bahwa jenis musik seperti nasyid adalah hal yang tabu dan terkesan milik suatu golongan. Bukan dengan kita mengganti nama jenis musik. Sebenarnya jika kita ingin di minati banyak orang, maka langkah yang harus kita baca adalah pertama, “ realita ”, dimana realita masyarakat kita lebih memilih musik seperti yang ada sekarang dan bisa masuk ke dalam jiwanya dan menilai bahwa nasyid adalah milik suatu kalangan serta mempunyai kesan paling “ teralim ”. Kedua, “ genre ”, jenis musik yang di sukai masyarakat kita adalah jenis musik yang bisa di nikmati dan lebih menjiwai ke dalam dirinya atau dengan simpelnya musik anak muda / remaja. Ketiga, “ Penampilan ”. kenapa penulis bilang yang ketiga adalah penampilan sebab masyarakat kita salah satu dari cara menilainya adalah dengan melihat penampilan. Dan yang perlu kita cermati bahwa para munsyid kita di Indonesia terlalu asyik dengan idealismenya sendiri yaitu mereka mau berdakwah tetapi mereka tidak mau membaca realita. Sebagai contoh Rasul kita nabi Muhammad Saw dalam melakukan berdakwah itu banyak mendapatkan rintangan dengan begitu kemudian Rasulullah membaca karakter bani quraisy yang memang saat itu jauh dari kebajikan. Maka jalan yang di ambil oleh Rasulullah adalah memperbaiki apa yang tidak di sukai oleh mereka dengan jalan pendekatan. Lain dengan para munsyid di kita, kita ingin berdakwah kepada masyarakat luas akan tetapi kita tidak mau membaca keinginan masyarakat luas dalam artian dari segi penampilan.

Sebagian para munsyid di kalangan kita masih malu menggunakan penampilan yang di sukai remaja. Ok lah, penulis mengerti bahwa seseorang bisa di nilai dari penampilannya tetapi tidak untuk Allah Swt bahwa Dia menilai seseorang dari hatinya bukan dari penampilannya. Logisnya selama kita masih mengerjakan perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Dan kita tidak melanggar syar’i dalam bergaul maka hal itu adalah sah sah saja. Contoh, masyarakat kita masih di bayang bayangi bahwa nasyid itu adalah orangnya suka memakai baju muslim, kemudian enggan memakai celana jeans dan segalanya di atur. Inilah gambaran kecil dari realita masyarakat Indonesia dalam menilai seorang munsyid. Maka dari sini, para munsyid sejatinya, harus bisa membaca animo masyarakat itu seperti apa ? bukan mengandalkan idealisme kita !.

Yang terakhir adalah “ Berdo’a ”. berdo’a sangat di anjurkan untuk hamba Allah Swt sebab do’a adalah wasilah kita kepada Allah Swt. Maka dari itu, jika kita sudah berusaha agar sajian sajian kita bisa di nikmati oleh “ pasar ” maka sejatinya juga kita harus bisa membaca animo “ pasar “ kita seperti apa.

‘Ala kulli hal, semuanya kembali kepadaNya. Kita hanya bisa berencana dan hanya Allahlah yang menentukan. Dan satu hal yang perlu di titik beratkan kepada para munsyid janganlah takut untuk berkarya. Luaskan imajinasi kita dalam bernasyid dan tetaplah beristiqamah, jangan sampai kita ingin membaca keadaan tetapi justru kita yang kemudian di hanyutkan oleh keadaan tersebut. Wallahu A’lam bishowab.

• Penulis adalah Mantan Ketua Umum SIMFONI ( Silaturrahmi & Forum Nada Islami ) 2006 – 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s