Kilas Balik Satu Dekade Nasyid Indonesia

Posted: May 20, 2008 in Opini
Tags:

KILAS BALIK SATU DEKADE NASYID INDONESIA
( Sebuah Catatan Perjalanan 1998 – 2008 )

Sungguh membanggakan dan menggembirakan melihat perkembangan yang dicapai Nasyid Indonesia satu dekade ke belakang. Ratusan bahkan mungkin ribuan tim nasyid baru bermunculan dengan berbagai warna dan tema yang diusung. Apakah cukup sampai di sini saja? Bagaimanakah sebaiknya munsyid –istilah untuk pelantun nasyid- dan nasyider –istilah untuk pecinta dan pemerhati nasyid- bersikap dan bertindak?

Era Sebelum 1998

Marilah kita tengok sebentar belantika senandung islami sebelum era reformasi. Jauh sebelum nasyid sebenarnya sudah ada senandung bernuansa islami lainnya seperti Qosidah maupun Hadrah sebagai sarana dakwah. Akan tetapi sarana dakwah ini hanya mampu menyentuh kalangan tertentu saja.

Nasyid hadir sebagai jawaban atas permasalahan ini yang digali dari Siroh Nabawiyah serta menyesuaikan dengan situasi dan kondisi kekinian. Nasyid Indonesia mulai berkembang sekitar tahun 80-an ketika berbagai pergerakan islam yang berafiliasi internasional mulai masuk ke tanah air. Pada awalnya nasyid berkembang dari kalangan aktivis masjid dan mushola kampus-kampus PTN ternama. Waktu iru nasyid cenderung memiliki penampilan ”monoton” dengan warnanya yang khas berbahasa arab serta syair dan irama yang mengobarkan semangat keislaman. Baru ketika awal tahun 90-an muncul tim-tim nasyid membawa corak baru yang lebih nge-pop seperti SNADA, walaupun masih banyak juga yang menyajikan nasyid harokah yang masih bertahan sampai sekarang seperti Izzatul Islam.

Para munsyid ini berhasil masuk ke dapur rekaman, menembus major label besar sekelas Musica Studio. Mungkin dikarenakan era politik waktu itu yang kurang mendukung ditambah merajalelanya musik-musik sekuler menyebabkan perkembangan nasyid Indonesia terhambat. Paling banter mereka hanya tampil ketika bulan Ramadhan saja mengisi waktu sahur dan saat berbuka atau ketika hari raya idul fitri.

Era Setelah 1998

Seiring dengan dikumandangkannya era reformasi, kebebasan berekspresi yang dulu terbendung seolah-olah jebol. Banyak hal menguntungkan yang diperoleh namun tidak sedikit pula bahaya serta tantangan yang dihadapi. Masyarakat kita mulai akrab dengan lagu-lagu sederhana namun penuh arti yang dibawakan oleh para pelantun nasyid bahkan selebritis yang biasanya bersenandung cinta-cintaan ikut-ikutan banting sentir membawakan lagu-lagu religius. Munsyid-munsyid dari negeri jiran berdatangan sehingga kita mengenal nama-nama seperti RAIHAN, INTIM, BROTHERS dan lain sebagainya. Dengan bahasa yang mudah dimengerti nasyid mereka membuat pendengarnya kesemsem.

Bagaimana dengan munsyid Indonesia? Satu per satu kita bisa sebutkan kawan-kawan serumpun dari pesantren Darut Tauhid seperti THE FIKR, TAZZAKA atau MQ Voice yang concern terhadap masalah manajemen qolbu dimana nasyid mereka diiringi alunan perkusi yang menawan. Ada juga tim nasyid yang membidik remaja seperti MG-16 yang sekarang berganti nama menjadi F-1 atau Justice Voice. Tema-tema yang dibawakan sangat anak muda sekali terdengar dari pemakaian bahasa gaul dan selengan namun tetap santun. Bahkan ada beberapa nasyid mereka yang diiringi keyboard atau drum set lengkap layaknya sebuah band. Ada juga tim nasyid yang mempertahankan kelihaian bermain musik mulut alias acapella seperti GRADASI atau Suara Persaudaraan.

Sebenarnya masih banyak nama-nama dan warna-warna lain yang ada termasuk tim-tim nasyid yang mengambil jalur indie label dengan memproduksi dan memasarkan karya mereka sendiri atau yang manggung dari satu walimahan ke walimahan yang lain. Jangan dilupakan pula tim-tim nasyid dadakan kepunyaan remaja masjid yang biasanya dibentuk sehari sebelum kegiatan diadakan. Dengan berbagai keterbatasan namun semangat mereka patut untuk diacungi jempol.

SEKARANG?

Kesadaran berislam serta perkembangan nasyid tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Keduanya saling memberi pengaruh layaknya simbiosis mutualisme dalam suatu ekosistem yang dinamis. Hal inilah yang sebaiknya selalu diingat setiap munsyid dan nasyider. Hingar bingar dunia hiburan jangan sampai mengaburkan pandangan kita akan tujuan dan niat awal kita. Lillahi Ta ’ala. Perjalanan nasyid masih panjang dan masih banyak hal baru yang akan berkembang. Kita harus lebih kreatif dalam mengemas karya kita tanpa melupakan koridor syar’i.

  • Penulis: Tri Kaloko (Reporter Radio Nasyid Online, trikaloko@radionasyid.net)
Comments
  1. chika says:

    ass//
    maaf ya.. nimbrung boleh kan??
    ngebaca artikel di atas,,
    emang sih nasyid sangat berkembang
    tapi sekarang yang di khwatirkan.. adalah munsid itu sendiri
    banyak munsid yang gx bisa merealisasikan apa yang dinyanyikan nya itu dengan kepribadiannya
    sehingga banyak sekali peminat nasyid yang kecewa,,
    karena nasyid yang mereka lantunkan hanya sebatas nyanyian

  2. abu zidan says:

    ass.wr.wb.
    saat ini ada Tim Nasyid yang sedang berjuang dijalur haroki yakni AL-IZZAH. CP: Ramli 02130607878 / 0816839580 / 0817818801

  3. ezy suzikry says:

    salam nasyid indonesia!
    semoga para munsyid yang sedang berjuang u/ merealisasikan cita2nya bisa segera tercapai, seperti Tim Nasyid AL-IZZAH yg setahuSaya mereka benar2 berjuang dari nol (0). Selamat Berjuang AL-IZZAH!!!

  4. salam silaturahim

    untuk seluruh munsyid di Indonesia, ayo qta jadikan nasyid menjadi hiburan alternatif nomer satu di Indonesia…..tetap semangat dan istiqomah…Allahu akbar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s