Nasyid

Posted: August 3, 2008 in Opini
Tags:

NASYID

Oleh : Ustadz Musyaffa’ Ahmad Rahim

Saya pernah membaca satu tulisan tetang sebuah diskusi. Tulisan ini menarik perhatian saya. Saya ingin, kalian pun tertarik dengan diskusi ini. Diskusi ini berangkat dari satu pertanyaan : Kenapa pemikiran-pemikiran Ibnu Taimiyyah ”kurang begitu populis?” Dan kenapa fikroh-fikroh bathilah (yang tidak benar) justru lebih populis? Padahal, kalau kita cermati (khususnya oleh kalangan terpelajar), banyak sekali pemikiran dan produk-produk ijtihad Ibnu Taimiyyah yang sangat brilian, bahkan banyak pula yang diadopsi oleh para ulama dan kiyai (dalam kenyataannya, meskipun mereka sangat menentang dan anti pati begitu mendengar nama Ibnu Taimiyyah).

Salah satu jawaban yang menarik perhatian saya secara kuat adalah jawaban yang mengatakan : ”Karena Ibnu Taimiyyah tidak didukung oleh banyak penyair, dan hampir tidak ada syi’ir-syi’ir dukungan terhadapnya yang disenandungkan (di-nasyid-kan). Nasyid adalah senandung, ia mirip lagu atau bahkan ia adalah lagu. Karena ia sebuah lagu, ia mudah dihafal, enteng pula dinyanyikan. Ia dapat dilantunkan ketika ia berjalan, ia bisa dikumandangkan saat ia rebahan, bisa juga sambil naik kendaraan, bisa pula sambil menimang anak, bisa pula sambil ini, sambil itu, dan sambil-sambil yang lainnya, namanya juga nasyid. Singkatnya, nasyid mudah sekali populis.

Karenanya bila kita mampu menggubah satu atau beberapa-apalagi banyak nasyid- yang berisi AL HAQQ, maka mudah sekali AL HAQQ itu populis.

Ada satu hal lagi barangkali, yang menyebabkan nasyid lebih cepat populis. Masyarakat kita (paling tidak di Jawa), senang sekali mengadakan hajatan: mengkhitankan anak, menikahkannya, walimah aqiqah, peringatan ini, peringatan itu, dan lain sebagainya. Untuk acara hajatan seperti ini, tidak bisa kita paksakan kepada mereka, harus diam tanpa bunyi-bunyian, apalagi di era digital dan teknologi CD /VCD/ MP3 yang gegap gempita ini. Tidak bisa pula kita paksakan harus memutar kaset tilawah secara terus menerus. Masyarakat juga merasa bahwa untuk acara-acara peringatan-peringatan yang bernuansa Islam, tidak pantas pula diputarkan lagu-lagu pop, dangdut, apalagi jazz dan semacamnya. Jadilah nasyid itu suatu alternatif –yang bagi mereka- jalan keluar yang pas.

Dari gambaran di atas, saya menjadi berpikir ulang, kenapa para ulama terdahulu banyak menggubah nazham ( semacam sya’ir) untuk mengemas ilmu-ilmu yang termasuk kategori berat, seperti : ilmu nahwu, sharaf, balaghah, musthalah hadits dan semacamnya, sehingga kita melihat sebagian daftar nazham berikut ini:

Pada ilmu nahwu ada : muhatul i’rab, al ’imrithi, al fiyah Ibnu Malik dan sebagainya. Pada bidang ilmu hadits ada nazham alfiyah al ’Iraqi dan al fiyah As-Syuyuti. Bahkan ada pula ilmu fiqih yang dinazhamkan, yang dikenal dengan matan Zubad.

Bahkan ada pula ilmu-ilmu syar’iyyah yang digubah menjadi suatu nazhami dalam bahasa daerah. Jawa misalnya, ada nazham fiqih, nazham tajwid, dan nazham-nazham lainnya dalam bahasa daerah, sehingga dengan mudah anak-anak dan masyarakat pada umumnya memahami kandungan ilmu-ilmu syar’i tersebut.

Salah satu sisi rahasianya barangkali, agar ilmu-ilmu itu mudah dihafal oleh anak-anak, saat mereka memiliki kemampuan photographic memory (kemampuan merekam seperti foto). Ya laitad du’aata yahfazhuuna haazhihin-Nuzhum (aduh, betapa indahnya jika para da’i menghafal nazhzm-nazham ini)!

Banyak pula nazham-nazham yang digubah untuk mendukung partai-partai tertentu, dan nazham-nazham itu disosialisasikan dalam kampanye-kampanye menjelang pemilihan umum, semuanya dengan tujuan agar simpatisan bisa men-senandungkannya kapan saja , dimana saja, dalam keadaan bagaimana saja. Dengan demikian dengan sadar atau tidak dengan sadar apa yang disenandungkan itu masuk dalam hatinya, menguasai dirinya dan mengarahkan tangannya untuk memilih dan mencoblos tanda gambar partai pemilik senandung itu.

Bila permasalahan nasyid itu kita tarik ke belakang, sejarah dakwah dan sirah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau, ternyata kita juga menemukan bahwa beliau SAW mempunyai beberapa ( kalau tidak bisa dikatakan banyak) penyair.

Ada Hasan bin Tsabit-radiyallahu ’anhu-, yang Rasululloh SAW bersabda, ”Qul ya Hassan wa Jibrilu ma’aka” (Jawab dan katakan wahai Hassan dan Jibril bersamamu).

Ada pula Abdulloh bin Rawahah-radiyallohu’anhu– yang syi’ir jihadnya menggugah para mujahidin, yang diantaranya:

Wahai jiwa dan nafasku, saya bersumpah dengan nama Allah kamu harus turun ke medan laga. Turun dengan rela atau harus dipaksa.

Dan masih ada lagi beberapa sahabat dan sahabiah lainnya. Beliau SAW sendiri menyemangati kaum muslimin melantunkan nasyid, saat beliau dan kaum muslimin menggali parit pertahanan Madinah dari pasukan multinasional.

Saudara dan saudariku yang dimuliakan Alloh SWT, tentunya yang saya maksudkan di atas bukan nasyid-nasyid cengeng sebagaimana dikatakan oleh sebagian orang, bukan nasyid-nasyid yang memperbincangkan wanita, pornografi, kemungkaran dan semacamnya, dan tentu pula jangan sampai nasyid-nasyid itu mengandung hal-hal yang menyelisihi syariat Islam, baik dalam sisi muatannya ataupun sisi cara membawakannya.

Banyak sekali nilai-nilai Islam yang mesti disosialisasikan, nilai-nilai akidah (ma’rifatulloh, tauhidulloh, keagungan Alloh SWT, iman kepada hari akhir kepada qada dan qadar), nilai-nilai ukhuwah, ibadah, akhlaq, mahasinul Islam (sisi kebaikan Islam) dan sebagainya.

Diantara nilai-nilai ada yang sudah ada nasyidnya, meskipun juga tidak menutup kemungkinan munculnya nasyid-nasyid baru dengan nilai sama. Dan diantara nilai-nilai itu banyak pula yang belum ada nasyidnya, karenanya bila saudara dan saudariku seiman memiliki kemampuan menggubah nasyid atau nazham, GUBAHLAH –wa jibrilu ma’aka insya Alloh– agar nilai-nilai Islam mudah diserap oleh masyarakat kita, terutama dari kalangan anak-anak.

Dan sebagai penutup, simaklah penggalan dari nasyid ini:

Nasyid kami adalah penyemangat kehidupan

Nasyid kami adalah penerang para da’i

Ia adalah cahaya, harapan, senyuman dan sinar terang

Nasyid kami adalah api bagi para taghut

SOURCE: http://annjateng.multiply.com/ Published: Feb 24, ’08 7:09 AM

Comments
  1. firman94 says:

    mkasih informasinya

  2. Rian says:

    lajutin lagi yahh

    setelah baca2 ternyata tmn2 ane juara 3 yahh

    four you,,ternyata ganti naman di lampung A Four or Al-kahfi….

    Selamet deh tuk tmn2….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s